Gaji Papa Berapa?

ddSeperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta
terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti
biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD
membukakan
pintu untuknya.

Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga
ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga,
Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”
“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp. 400.000,-.
Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.

Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur.
Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”
Baca lebih lanjut

Melihat Yang “Tidak Dilihat Orang”

Yang kita bicarakan ini bukanlah alam gaib, dimana ada sebagian orang yang bisa melihat mahluk mahluk dari alam lain, tapi hal hal nyata didalam kehidupan kita.

Apa resepnya supaya kita lebih banyak tahu daripada orang lain? Salah satunya ya itu tuh, melihat lebih banyak dan lebih kreatif dari yang dilihat orang lain pada umumnya. Apalagi kalau kita bisa melihatnya dari sisi yang tidak biasa, yang jarang terpikir oleh orang lain.

Semua orang yang mempunyai mata bisa melihat, tetapi tidak semuanya mampu dan mau memperhatikan apa yang dilihatnya. Kuncinya adalah memperhatikan. Kita perlu memperhatikan baik yang konkrit (nyata) maupun yang abstrak(imaginer). Yang kedua ini kiranya tidak semudah yang pertama. Namun untuk hal hal yang konkritpun tidak semua orang memperhatikannya, malah mengabaikannya.

 

“Melihat apa yang tidak dilihat orang” adalah ‘saudara dekat’ dari lateral thinking, anticipative, proactive, dan teman dekat dari timing yang pas,yang semuanya berhubungan dengan konsep interkoneksi yaitu MindWeb.

  Baca lebih lanjut

Kisah Seorang Pemecah Batu

Seorang pemecah batu karang mengeluhkan keberadaan dirinya.

“An, Wuhan tidak adil. Setiap bekerja aku pasti kepanasan. Betapa enaknya menjadi matahari. Ia tidak perlu bersusah-paya seperti aku. Jika Tuhan adil, aku ingin mejadi matahari.”

Tuhan mengabulkan permintaan pemecah batu. Dalam waktu sekejap ia berubah menjadi matahari. Betapa bangganya ia. Dengan sekuat tenaga, ia menyinarkan cahayanya keseluruh bumi hingga manusia menjadi kegerahan. Tetapi, tiba-tiba awan hitam menutup sinarnya. Cahaya yang kuat tak mampu menembusnya.

Ah, Tuhan tidak adil. Ternyata ada yang lebih kuat daripada aku. Jika Tuhan adil, aku ingin menjadi awan hitam.” Baca lebih lanjut

Mengapa Wanita Mudah Menangis?

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab aku wanita”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis?, Ibu menangis tanpa sebab yang jelas”. sang ayah menjawab, “Semua wanita memang sering menangis tanpa alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Sampai kemudian si anak itu tumbuh menjadi remaja, ia tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Hingga pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”

Dalam mimpinya ia merasa seolah Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.  Baca lebih lanjut

Salahmu…bukan salahku….

“Jika karyawan benar dalam melakukan proses produksi, pasti reject/defect kita tidak sebanyak ini, pasti produk kita bisa dikirimkan on-time ke pelanggan. Gak kayak gini, udah defect bejibun, telat kirim, kena denda lagi. Mbok ya karyawan itu sekali-sekali ikut mikir dari sudut pandang perusahaan. Toh, kalau perusahaan ini bangkrut karena terus-terusan rugi, karyawan juga yang kena imbasnya.” Begitulah ringkasan gerutu dari direktur sebuah perusahaan pada suatu rapat internal.

Merasa disindir, bagian produksi sontak membela diri.

“Lho, kita ini di produksi udah kerja keras. Tiap hari lembur buat kejar target. Soal proses, kita ini udah lakukan sesuai SOP. Justru yang nyebabkan banyak defect itu karena emang bahan bakunya yang jelek. Belum lagi mesin sering ngadat, trus bahan baku yang pas dibutuhkan juga sering kehabisan. Gimana mau lancar produksi kalo kayak gitu?”

Bagian maintenance pun menyelutuk :

”Sparepart-nya gak ada stok nya digudang. Bukan salah kita dong.”

Orang warehouse kaget, lalu menimpali

“Lho, tugas kita di warehouse cuman nyimpen doang. Kalo soal stok abis, tanya tuh sama purchasing! Mereka yang ngurusi pembelian, bukan kita.” Baca lebih lanjut

MERASA DIRI PALING MERANA

Saat itu saya tengah berada di kota Jeddah, Saudi Arabia. Terpapar dihadapan saya sebuah koran berbahasa Arab di lobby hotel.
Tergerak saya melihat berita dan artikel yang tertulis di sana, hingga saya temukan sebuah tulisan yang amat bermanfaat ini.
Tersebutlah kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama Ra’fat.
Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut yang ia idap.
Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan membuat Ra’fat mengalami penyakit di atas.
Ra’fat berobat untuk mencari kesembuhan.
Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar.
Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga.
Ra’fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti seorang pesakitan.
Demi mencari upaya sembuh, maka Ra’fat mengikuti saran dokter untuk berobat ke sebuah rumah sakit terkenal spesialis liver di Guangzhou, China.
Ia berangkat ke sana ditemani oleh keluarga. Penyakit liver semakin bertambah parah.
Maka saat Ra’fat diperiksa, dokter mengatakan bahwa harus diambil tindakan operasi segera.
Ketika Ra’fat menanyakan berapa besar kemungkinan berhasilnya. Dokter menyatakan kemungkinannya adalah fifty-fifty.
“50% kalau operasi berhasil maka Anda akan sembuh, 50% bila tidak berhasil mungkin nyawa Anda adalah taruhannya!” jelas sang dokter. Baca lebih lanjut

Kesuksesan dan Arogansi

Seorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan, “Success can lead to arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today’s rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail.” (Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal).

Itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi muncul saat seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa dan siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang biasa. Khusus pada tulisan ini, kita akan membicarakan soal manusianya. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: